Rabu, 22 Juli 2009

Menyongsong Rumah Sakit Pendidikan Unhas

Rumah sakit merupakan merupakan salah satu sarana pendidikan yang mutlak dan harus ada. Syarat mutlak mendirikan fakultas kedokteran adalah adanya fasilitas rumah sakit.“Tidak mungkin menghasilkan dokter kalau tidak miliki rumah saki,t” sahut Prof. Irawan.

Pada tanggal 28 Januari 1956, Menteri P dan K Prof. Mr. R. Soewandi meresmikan Fakultas Kedokteran Makassar yang merupakan cikal bakal dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin seiring dengan diresmikannya tanggal 10 September 1956. Untuk itu, dalam menghasilkan tenaga dokter yang professional maka harus memiliki rumah sakit sebagai pendukung utama.

Dalam perjalanannya, maka sejarah telah mencatat bahwa Pendidikan Kedokteran di Makassar cukup unik. Penyebabnya adalah sejak berdirinya Fakultas Kedokteran di Makassar maka semua Rumah Sakit (RS) baik itu RS pemerintah pusat, RS pemerintah daerah, maupun RS swasta pernah dijadikan sebagai RS pendidikan.

Salah satu contoh RS yang dijadikan sebagai RS pendidikan adalah RSU Dadi yang bertempat di Jalan Lanto Daeng Pasewang Makassar. Tetapi karena jauhnya kampus Tamalanrea Unhas yang menyulitkan mahasiswa dalam praktik, sehingga pada masa Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA sebagai Rektor Unhas dan Prof. Dr. Ahmad Amiruddin sebagai Gubernur Sulawesi Selatan segera mengajukan permohonan dana ke pemerintah pusat. Unhas pun bersedia menghibahkan sebagian tanahnya. Maka tahun 1995 dibangunlah RS Wahidin Sudirohusudo di pintu II kampus Unhas, Tamalanrea oleh Departemen Kesehatan RI.

Tanggal 15 September 2008 kemarin, Rektor Unhas Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi telah meletakkan batu pertama pembangunan rumah sakit berlantai enam di samping kiri jalan masuk pintu II Unhas. Rumah sakit ini dibangun oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) yang ke-4 di Indonesia setelah UI, UGM, dan Undip. Menurut Idrus A.Paturusi “Rumah sakit pendidikan (RSP) adalah merupakan sarana pendidikan kedokteran dalam melakukan penelitian dan pelayanan jasa kepada masyarakat sebagai aplikasi dalam Tri Darma perguruan tinggi”. Beliau menambahkan bahwa rumah sakit pendidikan ini tidak akan terjadi duplikasi pelayanan dengan RSUP Wahidin Sudirohusudo. RSP Unhas nantinya tidak akan menyediakan layanan yang sudah tersedia di RSUP Wahidin Sudirohusudo. Artinya yang tidak dimiliki RS Wahidin akan dimiliki oleh RSP dan begitu sebaliknya sehingga saling melengkapi. misalnya saja, di RS Wahidin tidak memiliki pusat penanganan penyakit strok (Stroke center) sehingga akan dibuat fasilitas tersebut di RSP Unhas, ungkap Rektor saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (22/09).

Selain itu, Dekan Fakultas Kedokteran Prof.Dr.dr.Irawan Yusuf, Phd. Menuturkan bahwa yang membedakan juga RSP Unhas dengan RSUP Wahidin adalah RSP Unhas nantinya diutamakan adalah Pendidikan, Penelitian, hingga Pengabdian pada masyarakat sehingga hanya tersedia 300 tempat tidur. Lain halnya dengan RSUP Wahidin yang mengutamakan Pelayanan jasa pada masyarakat mengenai penelitian dan pendidikan urusan selanjutnya sehingga yang tersedia tempat tidur di sana sekitar 700 tempat tidur. Tetapi pada prinsipnya rumah sakit ini tidak lepas dari visi misi perguruan tinggi, dimana pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga harus tercermin disana.

Irawan Yusuf menambahkan bahwa ada beberapa hal yang menjadi perhatian pada pendirian rumah sakit ini, yaitu yang pertama adalah menjadikan RS sebagai tempat pendidikan bagi dokter, dokter spesialis, konsultan dan tenaga kesehatan lainnya. Kedua RS bertujuan menghasilkan penelitian yang mempunyai keunggulan-keunggulan yang bisa berdampak ekonomi dan yang ketiga yaitu RSP menjadi salah satu rumah sakit yang memanfaatkan teknologi kedokteran sebagai pusat teknologi informasi yang merupakan tulang punggung dari segala aktifitas yang di jalankan dalam rumah sakit tersebut. Sehingga dengan RSP bertaraf Internasional (world class hospital) kita tidak lagi keluar negeri tetapi orang luar yang masuk kedalam dengan harapan RS tersebut ramah lingkungan dan hemat energi ungkap Dekan FK.

Dr. Ariyadi Arsyad, MB MSc selaku sekretaris panitia pembangunan RSP Unhas, menuturkan secara struktural RSP di bawah Unhas, apakah nantinya RSP menjadi unit pelaksana teknis (UPT), Dimana berada di bawah kendali FK karena Fakultas Kedokteran yang mendominasi dari fakultas-fakultas lainnya seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), dan Farmasi yang juga bisa terlibat dalam RSP tersebut. Hal inilah masih dalam tahap pembicaraan. Dan berbeda dengan RSUP Wahidin menurut Yahya Abdullah,SKM,MARs., kepala bagian unit pelaksana tugas RS Wahidin, secara struktur RS Wahidin dibawahi langsung oleh Departemen Kesehatan (Depkes) dan dipimpin oleh seorang Direktur.

Mengenai pendanaan pembangunan, Prof. Irawan mengungkapkan dana RSP Unhas diperoleh dari anggaran pendapatan belanja Negara (APBN). Tentu dalam operasionalnya kita tidak bisa mengharap dari APBN sepenuhnya. Ada dana operasionalnya yang digunakan dari Pendapatan Negara Bebas Pajak (PNBP)-nya fakultas kedokteran. Selain itu juga berasal dari sumber-sumber pembiayaan lain salah satunya dari Islamic development bank (IDB).karena tidak mungkin dana di tanggung semua oleh APBN.

Mengenai anggapan bahwa RSP Unhas akan menjadi saingan dari RS Wahidin,Dekan Fakultas Kedokteran Unhas ini membantah dan menuturkan, walaupun RSP Unhas dibawah manajemen Universitas, tetapi tidak menutup kemungkinan justru akan dilakukan manajemen bersama. dengan Wahidin dengan cara menyatu (networking). “Saya bersama Prof. Idrus adalah dewan pengawas RS Wahidin sehingga kita dekat dan selalu ada komunikasi. Kemudian secara geografis berada dalam lokasi yang sama dan secara historis dari dulu RS Wahidin digunakan sebagai rumah sakit pendidikan. Jadi tidak ada alasan untuk membangun RSP Unhas sebagai saingan dari RS Wahidin yang menjadi fasilitas praktikum dari mahasiswa fakultas kedokteran dan fakultas kesehatan lainnya dalam mencetak tenaga yang professional,” tandasnya.

Tidak jauh berbeda dengan rumah sakit pendidikan yang lain di Indonesia. Sebut saja Rumah Sakit Dr.Kariadi (RSDK) yang berlokasi di Jl.Dr.Sutomo No.18, Semarang dan merupakan RSP Universitas Diponegoro (Undip), Jawa Tengah. Menurut Reski Amalia,”RSDK ini memiliki fasilitas pusat jantung dan pembuluh darah (Cardiovascuker center) serta unit stroke. RSDK ini selain menjadi fasilitas praktek bagi Fakultas Kedokteran Undip juga digunakan oleh universitas lain yang memiliki fakultas kedokteran. Misalnya Universitas Atmajaya, Universitas Kristen Indonesi (UKI), dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula). Hanya saja yang membedakan dengan RSP Unhas, dari segi bangunannya dimana bangunan dari gedung RSP Undip menyatu dengan Fakultas kedokteran sedangkan RSP Unhas berpisah antara gedung FK dengan RSP itu sendiri,”jelas mahasiswa FK Undip, angkatan 2005 saat di konfirmasi lewat Hand Phone (HP) Selasa (14/10).(Mar,M33,M30)

Read rest of entry

Prof Dr Ir Toban Batosamma MS Sang Pakar Inseminasi Buatan dari Toraja

Prof Dr Ir Toban Batosamma MS, begitu nama lengkapnya. Di saat-saat remajanya, Guru Besar Fakultas Peternakan ini adalah pemuda yang gemar olahraga. Itupun tidak spesifik, hampir semua cabang olahraga disenanginya. Wajar saja meski sudah dua tahun tidak lagi terikat sebagai dosen karena pensiun, Toban masih kelihatan kuat dan semangat untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini juga ditunjang oleh aktivitas lapangannya sebagai pakar inseminasi buatan pada ternak yang menuntutnya harus berkeliling dari kota satu ke lainnya.

Awalnya beliau meninggalkan tanah kelahirannya Kabupaten Tana Toraja (Tator) dengan tekad kuliah, kuliah dan kuliah. Alasan yang mendasar yakni pada saat itu tidak ada tempat kuliah di Tator maupun sekitarnya. Meskipun sebelumnya telah ditawari menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), niat Toban tak urung. Yang jelas dengan semangatnya yang tinggi ia berangkat menuju Makassar. Mencari tempat kuliah dengan harapan masuk dan mendaftar pada jurusan baru yang dibuka. Maka Fakultas Peternakan pun menjadi pilihannya, meskipun pada saat itu bukan hanya Peternakan fakultas terbaru, tetapi MIPA juga baru terbentuk pada saat itu. Ketidaksenangan akan Ilmu Kimia adalah salah satu penghalang Toban untuk tidak memilih FMIPA.

Lelaki kelahiran Rantepao, 17 Mei 1942 ini termasuk salah seorang angkatan pertama di Fakultas Peternakan Unhas tahun 1963. Sejak itu, beliau aktif sebagai asisten dosen yang kemudian menyelesaikan studi S1-nya tahun 1973 dan menjadi dosen dalam bidang reproduksi ternak khususnya Inseminasi Buatan (IB). Inseminasi buatan ini merupakan teknologi dalam bidang peternakan dengan tujuan untuk mengatasi kekurangan ternak serta meningkatkan populasi dan produktifitas ternak.

Dalam penelitiannya, anak ke dua dari tiga bersaudara ini tetap konsisten dalam reproduksi ternak. Untuk reproduksi pada kerbau, Toban konsisten meneliti kerbau belang atau tedong bonga. Karena sebagai orang Tator yang memiliki kerbau belang, ia harus menjaga reproduksi dan populasi kerbau belang. Kebutuhan kerbau belang di Tator sangat tinggi namun sayangnya ada kondisi adat yang mempersulit pejantan dari kerbau belang untuk membuahi betina dengan seribu alasan. Salah satunya adalah kerbau akan kurus pada saat melakukan kawin. Olehnya itu bersenjatakan teknologi inseminasi buatan, Toban komitmen mengatasi permasalahan itu.

Selain konsisten membidangi inseminasi buatan, mantan Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Peternakan Unhas ini pernah menjadi Duta Sulawesi Selatan bergabung dalam Perkumpulan Ahli Teknologi Reproduksi Indonesia (PATRI). Kemudian pada Dinas Peternakan Sulawesi Selatan Toban bergerak sebagai konsultan atau pakar Insiminasi buatan. Untuk itu, ia telah keliling daerah membawakan materi dalam pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten maupun Dinas Peternakan Kabupaten. Seperti Bulukumba, Bantaeng, Bone, Enrekang, Tana Toraja, Sidrap, dan beberapa Kabupaten lain yang ingin mengembangkan teknologi IB.

Pelbagai pelatihan tersebut dilakukan untuk mewujudkan program pemerintah dalam Gerakan Sejuta Ternak di tahun 2013, Pemerintah Sulawesi Selatan sendiri telah mempercayai Dosen Senior Inseminasi Buatan (IB) Fakultas Peternakan ini melakukan beberapa tahapan pendampingan kepada masyarakat dalam hal ini kelompok tani seperti tahapan penyuluhan, pengembangan, dan tahapan mandiri dalam pengembangan ternak sapi perah dan sapi pedaging di Sulawesi Selatan.

“Saya berharap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki dapat pindah ke orang lain. Karena apa yang saya miliki tidak akan mungkin saya bawa sampai ke liang lahat. Makanya saya senang ketika ada orang yang ingin belajar pada saya khususnya teknologi IB,” ungkapnya pada Syamsul Marlin dari identitas saat ditemui di kediamannya Kompleks Unhas Baraya Blok E 11 Makassar.

Read rest of entry

Barang Bekas Peninggalan Renovasi

Perbaikan gedung secara fisik telah dilakukan. Hanya saja banyak sisa-sisa berupa barang bekas yang tidak terpakai lagi. Lantas bagaimana nasib dari barang bekas tersebut?

Semenjak kepemimpinan Prof Dr dr Idrus A Paturusi sebagai rektor Unhas, terlihat nampak perubahan positif dari segi gedung dan beberapa fasilitasnya. Berbagai perbaikan telah dilakukannya. Mulai dari renovasi gedung perkuliahan, asrama mahasiswa, pergantian kursi, hingga renovasi perpusatakaan dan bahkan penambahan gedung baru. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya pencapaian visi Unhas sebagai Universitas kelas dunia.

Menurut Pembantu Rektor II bidang Administrasi Umum dan Kesejahteraan Dr dr Wardihan Sinrang, ketidaknyamanan selama renovasi memang tidak bisa dihindari. Pernyataan tersebut di dukung oleh survei Tim Teknis Unhas, dari sejarahnya sendiri, Gedung FIS baru direnovasi dua kali sejak dibangun. Terakhir di renovasi tahun 80-an dan kondisi bagian atap gedung sudah bocor dan kuda-kuda atap dari bahan kayu pun telah lapuk termakan usia. Sehingga jika tidak direnovasi, saat hujan turun, air akan menggenangi ruangan (identitas, Awal Oktober 2008).

Pagi-pagi sekali Minggu (23/11) lalu, segerombol wanita berbondong-bondong keluar dari lokasi kawasan Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Unhas. Pagi itu beberapa diantaranya terlihat panik ketika tiba-tiba diantara mereka melihat orang lain diluar rombongannya yang tidak dikenali. Pasalnya segompol kayu yang telah terikat kuat ikut bersama dan dibawahnya oleh tiap-tiap individu. Ada yang menggunakan gerobak lori-lori dan adapula yang membawa langsung dengan menggunakan kepala yang beralaskan kain atau sarung sebagai penumpu utama dari kayu tersebut agar tidak sakit dan nyaman dibawa.

Kayu-kayu tersebut didapatkan dari limbah sisa-sisa perbaikan (renovasi) bangunan gedung dan beberapa pembangunan gedung lainnya. Bukan kali ini saja kita jumpai peristiwa seperti ini. Tetapi sudah sangat sering dan hampir tiap hari liburan ketika kampus kosong dengan aktifitas perkuliahan. Maka akan kita jumpai peristiwa seperti ini.

Sejak dulu orang-orang dari luar yang notabene adalah masyarakat sekitar kampus masuk ke kampus demi mengais limbah yang dapat dimanfaatkan olehnya. Seperti balok, genteng, kursi kayu, flapon, dan barang bekas lainnya. Hanya saja bukannya tidak dimanfaatkan oleh pihak kampus Unhas tetapi hal ini membutuhkan proses waktu lama untuk mengolah dan memanfaatkannya kembali.

Kasus lain misalnya atap genteng bekas yang ada di Fakultas Peternakan sudah berjalan 2 bulan pasca direnovasi masih terlihat menumpuk menyerupai bukit. Ini berarti proses pemanfaatan limbah bangunan di Unhas membutuhkan waktu dalam mengolahnya hingga betul-betul termanfaatkan sesuai dengan harapan civitas akademika Unhas dengan tidak terbuang begitu saja. Flapon yang bahannya dari papan komposit telah dibongkar dan jejaknya telah hilang. Sejak terbongkarnya maka truk-trukpun menjemputnya dan mebawanya keluar untuk dimanfaatkan kembali. Entah dijual dengan harga yang tinggi sebagai kas tambahan yang jelas tidak menumpuk di kampus.

Misalnya limbah bekas yang disisakan oleh perbaikan pada gedung Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unhas. Perlakuan yang dilakukan yaitu mengganti bagian atap secara keseluruhan yang dulunya kayu sekarang tergantikan oleh aluminium. Olehnya itu, limbah atau sisa-sisa dari perbaikan tersebut berupa balok dan genteng serta barang-barang bekas lainnya yang memiliki nilai dan masih bisa termanfaatkan di jual kepada perusahaan.

Drs Jursum Kepala bagian perlengkapan saat dimintai keteranngannya menuturkan bahwa limbah hasil pembongkaran, contohnya di FIS dilelang. Sedangkan hasil pelelangannya dimasukkan ke kas Negara. “Pembongkaran yang dilakukan di FIS itu, balok-balok tersebut dilelang, dananya langsung masuk ke kas Negara”, ungkapnya saat ditemui kamis (20/11) diruang kerjanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa telah dilakukan upaya tender secara transparan dengan cara menempelkan pangumumannnya di papan-papan pengumuman resmi, walhasil ada 7 CV yang mendaftar. Dan yang menjadi pemenang tender tersebut adalah CV. AURORA dengan penawaran sebesar Rp 205.000.000,-. Namun, sesuai dengan pertimbangan tim teknis bahwa nilainya perlu dinaikkan lebih dari itu. Dan akhirnya, dilakukan negosiasi dengan pihak perusahaan dan hasilnya disepakati harga sebesar Rp. 215.000.000,-, jelasnya saat memberi keterangan kepada pihak identitas.

Untuk renovasi yang telah dilakukan Unhas belum memenuhi target. Padahal harapan rector akhir 2008 renovasi fisik telah selesai. Hal ini diungkapkan oleh Kepala bagian Administrasi Umum Drs Abdul Halim Doko Msi yang mengatakan bahwa “Renovasi yang telah dilakukan belum memenuhi target. Rektor mengatakan bahwa khusus renovasi fisik akan selesai tahun 2008 ini, tetapi karena terlalu banyak gedung yang perlu direnovasi sedangkan dananya terbatas akhirnya target kita tidak tercapai. Misalnya saja gedung lama Fakultas Teknik yang juga ditargetkan akan direnovasi” Ungkapnya kepada identitas saat ditemui Jumat (21/11) di ruang kerjanya kemarin.

Mar,M33,M28

Read rest of entry
Read rest of entry

Sumber Pangan Tanaman Minor

Undang-undang nomor 7 tahun 1996 adalah undang-undang yang mengatur tentang pangan. Semua yang terkait dengan ketahanan pangan diatur dalam peraturan ini. Hanya saja ada salah satu jenis tanaman yang sampai saat ini belum tercatat dalam Dinas Ketahanan Pangan sebagai sumber pangan yaitu Jewawut (Millet)

Badan Ketahanan Pangan Indonesia adalah suatu wadah yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mewujudkan ketersediaan pangan di indonesia ini. Ketersediaan di sini memenuhi ketersediaan setiap rumah tangga dalam jumlah yang cukup dan terpenuhi baik dari segi mutu, gizi, dan keamanan untuk dikonsumsi serta terjangkau oleh setiap individu.

Dalam proses ketahanan pangan, yang paling berperan adalah petani. Di samping petani adalah produsen utama pangan, tetapi petani juga adalah kelompok konsumen terbesar yang masih miskin sehingga membutuhkan daya beli yang cukup tinggi dalam membeli pangan dan sebaliknya ketika pangan petani dibeli dengan harga yang relative rendah. Hal inilah yang memicu sehingga petani harus memiliki kemampuan dalam memproduksi pangan sekaligus juga harus memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Program pemerintah tentang swasembada beras dan merupakan salah satu program dalam mewujudkan ketersediaan pangan masyarakat sulit untuk dicapai. Sehingga sampai saat ini program pemerintah ini gagal. Hal ini terbukti dengan adanya program pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri demi memenuhi ketersediaan pangan masyarakat. Pada hal selain beras, banyak alternative pengganti beras sebagai sumber pangan seperti Ubi jalar, Ubi kayu, Jagung, Kacang-kacangan, Kedelei, dan yang tak kalah pentingnya dari segi kandungan gizi adalah Jewawut karena sekarang belum komersil.

Jewawut adalah termasuk tanaman ekonomi minor namun memiliki nilai kandungan gizi yang mirip dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, gandum, dan tanaman biji-bijian yang lain karena tanaman jewawut sendiri adalah tergolong ke dalam jenis tanaman biji-bijian. Masyarakat belum mengenal Jewawut sebagai sumber pangan sehingga selama ini tanaman jewawut hanya dijadikan sebagai pakan burung. Pada hal tanaman ini dapat diolah menjadi sumber makanan oleh masyarakat guna mendukung ketahanan pangan dan mengantisipasi masalah kelaparan.

Menurut Ir. Hj. Rusdayani Amin,MS, Tanaman ini tersebar dihampir seluruh Indonesia seperti pulau buruh, jember, dan termasuk di Sulawesi Selatan seperti Enrekang, Sidrap, Maros, Majene dan daerah lainnya. Tanaman ini sangat mudah untuk dibudidayakan karena di tanam pada lahan-lahan ladang penduduk dengan cara tanah yang digembur ditaburi dengan biji Jewawut. Kemudian tanaman ini tidak memiliki musim dan bisa ditanam sepanjang tahun dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhannya. Kemudian tidak membutuhkan jenis tanah khusus. Olehnya itu, bisa ditanam dimana saja dengan cara ditabur. Kemudian dari segi ekonomi tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan dalam pemeliharaan sederhana karena tidak membutuhkan pestisida dan jenis kimia lainnya. Hanya saja perlu diamankan dari gangguan burung karena merupakan salah satu makanan burung. Sehingga terkdang di luar negeri, Jewawut di budidayakan pada tempat yang tertutup kaca.

Kemudian dalam pengolahannya dalam makanan, jewawut ini mirip dengan beras. Awalnya jewawut dijemur, dikuliti, hingga tinggal dagingnya. Masyarakat Sidrap membuat jenis makanan Baje dari Jewawut yang dicampur dengan gula merah dan kelapa, dan songkolo. Artinya jewawut di sini hampir sama dengan beras ketan. Kemudian tanaman Jewawut dapat diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi tepung beras. Karena jewawut ini mengandung sumber Vitamin B dan Beta Karotin yang rendah. Selain itu, jewawut dapat menjadi bahan minuman penyegar seperti Milo dengan cukup ditambah dengan coklat dan susu. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai obat kanker. Jelas Dosen Jurusan Budidaya Pertanian Unhas.

“Ke depannya, mudah-mudahan pemerintah dapat mengadakan sosialisasi tentang manfaat dari jenis tanaman jewawut ini kepada masyarakat supaya dapat menanam untuk memperkuat ketahanan pangan kita di Indonesia Khususnya masyarakat Sulawesi Selatan untuk tidak bergantung kepada beras semata sehingga menjadikan Jewawut sebagai komoditas andalan” Harap Ibu Kelahiran Pare-pare 11 Desember 1956 saat ditemui di ruang kerjanya. Syamsul Marlin

Read rest of entry